Masalah sampah selalu menjadi masalah sepanjang masa yang hampir selalu ada di setiap tempat. Semaju dan seberkembang pesat apapun suatu daerah hanya beberapa yang bebas dari masalah sampah. Di desa Sidodadi sendiri masalah sampah telah cukup lama meresahkan warga. Sampah yang bertumpuk-tumpuk di pinggiran jalan sepanjang jalur sambong. Yang lebih menggemaskan dari masalah ini adalah pelaku pembuang sampah yang konon menurut keterangan para warga desa Sidodadi ini adalah warga luar desa. Dimana mereka biasa membuang sampah-sampahnya tersebut di malam hari. Sehingga tak seorangpun yang tahu pasti siapa yang membuang sampah di tempat tersebut. Menurut Bapak Karpin, selaku Kepala Dusun Mundri, sebelumnya sudah pernah dipasang poster-poster berisi peringatan untuk tidak membuanag sampah di tempat tersebut, namun cara ini hanya berlaku hingga beberapa hari saja, dan aksi-aksi tak bertanggung jawab tersebut kembali diulangi.

Berdasarkan masalah tersebut, maka didakanlah FGD yang melibatkan masyarakat desa Sidodadi yang difasilitasi oleh KKN PAR STAI Al Hikmah Tuban, dimana mendapatkan hasil sebagai berikut:

  1. Penempatan gorong-gorong di area yang sering dijadikan sasaran pembuangan sampah

Mengingat bahwa Desa Sidodadi memiliki hambatan terkait lahan untuk dijadikan tempat pembuangan akhir sampah, sedangkan di tempat-tempat tertentu juga masih banyak yang dijadikan objek atau sasaran tempat membuang sampah, maka tim KKN PAR STAI Al Hikmah berinisiatif untuk memberi gorong-gorong berukuran sedang di beberapa tempat tersebut.

Pemberian gorong-gorong ini dengan harapan agar sampah-sampah yang biasa dibuang di tempat tersebut terkondisikan dan tidak berceceran. Gorong-gorong ini juga mempermudah pengguna jalan yang sewaktu-waktu butuh membuang sampah agar tidak sembarangan membuang sampah di pinggir-pinggir jalan.

  1. Memasang poster berisi larangan membuang sampah di area jalur sambong

Meskipun warga Desa Sidodadi pernah melakukan strategi ini, dan tidak memberikan perubahan yang berarti, namun Tim KKN PAR STAI Al Hikmah tak mau berhenti mencoba. Setelah sampah-sampah yang menumpuk itu dibersihkan, poster-poster berukuran 30 x 50 cm segera dipasang.

Jika didalam jiwa setiap warga terutama mereka-mereka yang menjadi pelaku pembuangan sampah sembarangan tersebut terdapat kesadaran, maka poster-poster berisi larangan membuang sampah yang tidak dapat berbicara tersebut cukup untuk menghentikan aksi negatif mereka.

  1. Penertiban sampah dengan mengoperasikan Bank Sampah

Warga dan pemerintah desa sudah cukup kewalahan menghadapi masalah ini. Ketika pembuatan tempat pembuangan akhir (TPA) belum dapat dilakukan karena lahan yang belum tersedia, akhirnya pemerintah desa bersama Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sempat merencanakan pembuatan Bank Sampah. Hanya saja wacana tersebut belum juga terealisasikan.

Hingga akhirnya tim KKN PAR STAI Al Hikmah mendatangkan IDFoS Indonesia untuk memberikan pelatihan tentang pengoperasian Bank Sampah. Mulai dari pembentukan pengurus Bank Sampahnya, proses pengelolaannya hingga penyusunan laporan keuangannya.

Rencananya, sampah-sampah yang telah disetorkan ke Bank Sampah tersebut yang mana sebelumnya telah dibedakan antara kelompok organik dan non organik, selanjutnya sampah-sampah yang telah dipisahkan tersebut diolah kembali. Sampah-sampah organik dijadikan pupuk kompos dan sampah-sampah non organik dijual lagi ke badan usaha pengelola sampah.

 

Aksi Mahasiswa KKN Participatory Action Research dalam Pengelolaan Sampah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *